Kamis, 30 Desember 2010

Kisah Umair bin Wahab


Perang Badar dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin. Rasa syukur pun selalu mereka panjatkan ke hadirat Allah SWT. Sebaliknya, kekalahan yang diterima kaum musyrikin Quraisy benar-benar membuat mereka makin geram.

Umair bin Wahab dan Shafwan bin Umayyah mengungkapkan kekesalan mereka atas kemenangan umat Islam. Umair berkata kepada Shafwan, "Ah, seandainya aku tidak sedang dililit utang dan keluargaku bisa kutinggalkan saat kesulitan sekarang, aku akan mencari Muhammad dan membunuhnya!"

Mendengar perkataan Umair tersebut, Shafwan menyambut ide Umair dan berkata, "Baiklah, jika kau berhasil membunuh Muhammad dan menyiksanya dengan keji, aku berjanji akan memberimu 100 ekor unta. Dengannya kamu bisa melunasi semua utang keluargamu, begitu pula keluargamu akan aku jadikan bagian dari keluargaku!"

Tawaran yang menggiurkan. Tanpa pikir panjang, Umair langsung menerima tawaran Shafwan dengan senang hati.

"Tapi ingat! Ini adalah rahasia kita berdua. Jangan sampai kauceritakan kepada yang lain!" pesan Shafwan kepada Umair.

Umair pun segera berangkat ke Medinah untuk melaksanakan rencana kejinya tersebut. Akan tetapi, malang baginya, di tengah perjalanan ia bertemu Umar bin Khaththab, sahabat Rasulullah saw yang sangat ditakuti kaum Quraisy karena keberanian dan pukulannya yang menyakitkan. Rasa takut menyergap Umair, apalagi ketika Umar menggiringnya untuk menghadap Rasulullah saw.

Interogasi terhadap Umair atas maksud kedatangannya ke Medinah dimulai di hadapan Rasulullah saw. Beliau bertanya, "Apa maksud kedatanganmu ke sini?"

Umair tidak mungkin menjawab dengan jujur niatnya untuk membunuh pemimpin umat Islam itu sendiri. Ia berkilah, "Sungguh kedatanganku ke sini untuk menebus putraku yang telah kalian tawan."

Rasulullah saw sebenarnya sudah mengetahui bahwa Umair berbohong. Beliau mendapat petunjuk dari Allah SWT. Berkali-kali beliau bertanya kepada Umair, berkali-kali pula ia terus berbohong.

Akhirnya, Rasulullah saw mengakhiri kebohongan Umair dengan berkata, "Aku tahu engkau telah bersekongkol dengan Shafwan untuk membunuhku. Dengan melakukannya, Shafwan akan memberikanmu 100 ekor unta untuk melunasi seluruh utang keluargamu dan menjadikan keluargamu bagian dari keluarganya!"

Umair tersentak kaget mengetahui Rasulullah saw bisa membongkar niat busuknya. Dia sangat heran, "Benar-benar tidak habis pikir, bagaimana Rasulullah bisa mengetahui rencana busukku, padahal tidak ada orang lain yang mendengarkan, hanya aku dan Shafwan. Lagi pula percakapan itu terjadi di Mekah, jauh dari Medinah tempat Rasulullah saw berada?"

Kebenaran berita yang disampaikan Rasulullah saw membuat Umair yakin bahwa Muhammad benar-benar utusan Allah. Ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai ketundukannya pada Islam. Rasulullah saw menyambutnya dengan baik.

Tidak ada prasangka atau dendam sama sekali kepada Umair. Bahkan, beliau menyuruh para sahabat untuk mengajari Al-lslam kepada Umair, sampai ia memahaminya dengan baik. Ditambah lagi, semua tawanan yang diminta oleh Umair, beliau bebaskan tanpa keberatan sama sekali.

Waktu pun berlalu. Saat dirasa ilmu yang dimiliki Umair sudah cukup, Rasulullah saw mengizinkannya untuk kembali ke Mekah. Di sana ia menyiarkan Islam dan hasilnya hampir seluruh masyarakat Mekah masuk Islam berkat dakwahnya.


Minggu, 19 Desember 2010

Adilnya Syariat Islam kpd Siapa saja...


Ketika baju besi Ali bin Abi Thalib ra dicuri oleh seorang Yahudi, maka Ali kw mengadu kepada Umar bin Khattab ra sebagai Khalifah saat itu, maka Umar ra tahu betul bahwa Ali kw tak mungkin berdusta, namun hukum syariah mesti ditegakkan, maka Umar ra bertanya mana saksi kalian?, Yahudi membawa dua orang saksi, dan Ali kw membawa kedua putranya hasan dan husein sebagai saksi, maka Umar ra tertunduk malu seraya berkata : “maaf wahai Ali, anak tidak bisa dijadikan saksi mata”, maka Ali kw berkata : “apakah kau tolak kesaksian cucu Rasulullah saw?”, maka Umar ra tertunduk seraya berkata : “hukum syariah mengatakan bahwa baju besi ini milik yahudi”, maka Ali kw menerima keputusan dan pergi, maka menangislah sang yahudi seraya berkata : “belum pernah kutemukan hukum agama yg membela keadilan pada orang yg lain agamanya dengan mengalahkan kesaksian cucu nabi mereka, maka saksikanlah, aku masuk islam!”. (Sirah Ali bin Abi Thalib kw).

Sungguh Sempurna Syariah ini


Kamis, 16 Desember 2010

Keutamaan Majelis Dzikir.


Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim bin Maimun telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Suhail dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda:

'Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi mempunyai beberapa malaikat yang terus berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah menemukan majelis dzikir tersebut, maka mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah. Apabila majelis dzikir itu telah usai, maka mereka juga berpisah dan naik ke langit.'

Kemudian Rasulullah meneruskan sabdanya: 'Selanjutnya mereka ditanya Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dzat Yang sebenarnya Maha Tahu tentang mereka: 'Kalian datang dari mana? ' Mereka menjawab; 'Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu di bumi yang selalu bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memohon kepada-Mu ya Allah.' Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala bertanya: 'Apa yang mereka minta? ' Para malaikat menjawab; 'Mereka memohon surga-Mu ya Allah.' Allah Subhanahu wa Ta'ala bertanya lagi: 'Apakah mereka pernah melihat surga-Ku? ' Para malaikat menjawab; 'Belum. Mereka belum pernah melihatnya ya Allah.' Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata: 'Bagaimana seandainya mereka pernah melihat surga-Ku?

' Para malaikat berkata; 'Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu ya Allah.' Allah Subhanahu wa Ta'ala balik bertanya: 'Dari apa mereka meminta perlindungan kepada-Ku? ' Para malaikat menjawab; 'Mereka meminta perlindungan kepada-Mu dari neraka-Mu ya Allah.' Allah Subhanahu wa Ta'ala bertanya: 'Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku? ' Para malaikat menjawab; 'Belum. Mereka belum pernah melihat neraka-Mu ya Allah.' Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata: 'Bagaimana seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? ' Para malaikat berkata; 'Ya Allah, sepertinya mereka juga memohon ampun (beristighfar) kepada-Mu? '

Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menjawab: 'Ketahuilah hai para malaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta, dan melindungi mereka dari neraka.' Para malaikat berkata; 'Ya Allah, di dalam majelis mereka itu ada seorang hamba yang berdosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka.' Maka Allah menjawab: 'Ketahuilah bahwa sesungguhnya Aku akan mengampuni orang tersebut. Sesungguhnya mereka itu adalah suatu kaum yang teman duduknya tak bakalan celaka karena mereka.'

(HR Shahih Bukhari)


Jagoan Versus VOC


By Alwi Shahab

Jakarta sejak awal abad ke-19 syarat dengan jagoan atawa jawara. Ketika itu, di tiap kampung terdapat sejumlah jagoan. Jagoan dari kata Portugis jago. Maklum, negara di Eropa Selatan ini adalah pedagang dari Eropa pertama yang datang ke Sunda Kalapa. Jauh sebelum Belanda dan bangsa Barat lainnya.

Portugis telah datang ke daerah ini sejak Sunda Kalapa berada di bawah kekuasaan Pajajaran (Hindu) yang berpusat di Pakuan (Bogor). Kala itu, Sunda Kalapa begitu terkenal. Berbagai komoditi dari seluruh kerajaan dikumpulkan di Bandar Sunda Kalapa.

Tom Pires, seorang petualang, ketika itu menyebutkan, dalam perdagangan dipergunakan mata uang (logam) yaitu cash dari Cina. Uang-uang tersebut dilubangi di tengahnya seperti caiti, sehingga dapat diikat dengan benang dalam jumlah ratusan.

Naskah Sang Hyang Siksakandang Karesian menyebutkan ada lapisan masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok ekonomi, rohani dan cendekiawan, alat negara, dan seniman. Dalam naskah itu disebutkan ada 10 kebaktian. Yakni anak bakti pada bapak, istri bakti pada suami, rakyat kepada pacandaan (majikan), murid bakti pada guru, petani bakti kepada wado (pejabat rendahan), pejabat rendahan bakti kepada mantri, mantri bakti kepada mangkubumi, mangkubumi bakti kepada raja, raja bakti pada dewata, dan dewata bakti pada Hyang.

***
Kerajaan Pajajaran berakhir bersamaan ketika Fatahillah mengusir Portugis dari Teluk Jakarta. Setelah masa Jayakarta (1527-1609), VOC berkuasa di Batavia. Sampai abad ke-19 pusat kota ada di Pasar Ikan, Jakarta Utara.

Kediaman Rainier de Klerk (dibangun 1760), terletak hanya sekitar 200 meter dari pusat perdagangan dan perbelanjaan Glodok, ketika itu. Sedangkan Gedung Arsip Nasional terletak jauh di luar kota. Demikian pula dengan Gereja Portugis di depan stasion kota terletak di luar kota Batavia.

Kala itu para pembesar Belanda membangun rumah-rumah besar untuk menikmati akhir minggu di vila-vila besar di sekitar Harmoni dan Jalan Pangeran Jayakarta. Sementara, para pejabat berlomba-lomba membeli tanah di ommenlanden (jauh dari pusat pemerintahan).

Cornelis Chastelin, saat itu, memiliki ribuan hektar tanah dari Tanjung Barat, sampai Srengseng Sawah dan Depok. Masih belasan lagi petinggi VOC yang memiliki tanah bejibun di luar pusat pemerintyahan.

***
Sejak masa gubernur jenderal Daendels (1808-1811) untuk keperluan pertanahan dia melelang tanah-tenah dan berlangsung terus pada para penggantinya. Tanah-tenah itu kemudian dijual lagi pada tuan tanah yang menyewakannya kepada para petani penggarap. Di dalam sebuah kerajaan raja dianggap sebagai pemilik tanah dan petani yang menggarapnya sebagai hamba yang harus menuruti perintah raja.

Para tuan tanah itu melakukan kekerasan apabila perintahnya tidak ditaati. Mereka menggunaan polisi dari satuan VOC, mandor dan centeng-centeng untuk menyiksa rakyat yang tak berdaya. Karena itu, para petani banyak melakukan perlawanan.

Cerita-cerita tentang jagoan Betawi yang populer seperti Si Pitung, Si Jampang Jago Betawi, Nyai Dasima, Tuan Tanah Kedaung, Macan Kemayoran, dan Si Ayub dari Teluk Naga, sudah dikenal melalui lenong, bahkan sudah dilayarlebarkan.

Mereka adalah para jawara Betawi atau pahlawan rakyat yang berhasil membasmi tuan-tuan tanah dan kaki tangannya. Cerita-cerita Betawi itu mengandung apa yang disebut ‘tema abadi’, yakni cerita-cerita yang mengandung ajaran bahwa betapapun yang jahat itu pasti akan dikalahkan atau dihancurkan oleh yang benar.

Menurut budayawan Betawi, Ridwan Saidi, para jawara atau jagoan Betawi mempunyai kesejarahan panjang. Bahkan, lebih tua dari ulama sendiri, yakni sejak abad ke-2 Masehi dengan tokoh Aki Tiurem. Nama-nama jagoan seperti Bang Puase, Pitung, Haji Ung, Ja’man, H Entong Gendot, Mad Djaelani, Mat Item, Imam Syafi’ie, Ahmad Benyamin alias Mad Bentot, Bir Ali dan Asenie adalah jagoan-jagoan yang memiliki kenangan tersendiri bagi masyarakat Betrawi.

***
Pada masa VOC banyak lahir para jawara yang ahli main silat atau giksaw. Untuk itu, bagi masyarakat Betawi mempelajari ilmu silat adalah suatu kamustian. Seperti halnya rakyat Jawa mengharapkan kedatangan Ratu Adil, demikianlah rakyat Betawi mengharapkan datangnya seorang jawara. Mereka yakin jawara atau jagoan yang akan melepaskan mereka dari kaum penindas yang sewenang-wenang.

Tidak sedikit para jagoan Betawi yang dengan gagah berani menghadapi VOC. Seperti si Pitung, jagoan Betawi kelahiran Rawabelong. Di kawasan Rawabelong inilah pada akhir abad ke-19, si Pitung, anak seorang petani pasangan Piun dan Pinah, membuat Kompeni di Betawi tidak pernah tenang.

Pitung dan kawan-kawannya menyatakan perang terhadap kompeni dan dendam yang telah ia wariskan sejak kecil. Belajar silat pada seorang guru silat terkenal di Rawabelong, H Naipin, dia berhasrat ingin menolong rakyat dari penindasan.

Kompeni terpaksa memutar otak untuk menaklukkan Pitung. Tidak tanggung-tanggung, Schout (kepala Polres) Heyne sendiri yang memimpin pasukan untuk menangkap Pitung. Konon, hanya dengan peluru emas, Pitung baru berhasil dirubuhkan dalam suatu penggrebekan.


Menepis Bisikan setan dalam hati.


Assamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Berikut Tips menepis bisikan setan dalam hati dari Habib Munzir al Musawa yang ana ambil dari forum tanya jawab di website www.majelisrasulullah.org

kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,

Sdr/i ku,jangan risau dg bisikan hati anda, itu sering mendatangi para shalihin sekalipun, namun sangat mudah menepisnya, bagaimana?, jika anda terus sibuk dg kerisauan maka syaitan terus masuk dihati anda dan mengganggu, maka tutup pintu hati anda dg melupakan itu dan meremehkannya,

(Katakan dalam hati) saya tidak akan tertipu bisikan hati, saya tetap tidak akan sujud pada selain Allah swt, saya tetap tak akan menyembah selain Allah swt, dan saya mengakui Nabi Muhammad saw adalah nabi saya, dan saya mengakui islam agama saya, selepas dari itu saya berbuat semampunya, dan Allah sdh janji memaafkan hamba yg mohon pengampunannya.

tertawakan bisikan itu, jangan difikirkan, tertawakan, (katakan) silahkan bisikkan apapun dikepala dan hatiku, aku tak akan berubah dari agamaku, dan semakin kau bisikkan maka aku semalkin dekat dan dicintai Allah swt, karena ditimpa musibah, maka silahkan menggodaku, karena dg itu aku makin mulia disisi Nya, Allah swt tiidak bisa ditipu, Allah swt tahu keadaanku, lebih dari semua makhluk Nya swt,. Allah swt tahu bahwa aku lemah menolak ini, maka Allah swt memaafkanku dan mengangkat derajatku hingga mencapai derajat luhur.

maka InsyaAllah bisikan itu akan hilang...

Semoga Allah swt melimpahkan cahaya keimanan, ketabahan dan kesejukan pada kita semua, dan cahaya keluhuran dihati sdri hingga selalu terjaga dari terjebak pd dosa, amiin

salam rindu selalu tuk saudara/i ku tercinta.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a'lam

Wasssalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh,


Beberapa Dalil Tabarruk


Dalam Surat Yusuf: “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”.
Lihat Surah Yusuf, Ayat 93.

Imam Malik bin Anas berkata: “Saya melihat Kanjeng Nabi saw sedang mencukur rambut kepala beliau dan terlihat kepala beliau yang penuh barakah itu bercahaya, sementara para sahabat berthawaf mengelilingi Kanjeng Nabi saw dan ketika beberapa helai rambut beliau jatuh, mereka berebutan dan mengambilnya”.
Lihat kitab Shahih Muslim, Juz 15, Halaman 83. Kitab Musnad Ahmad, Juz 3, Halaman 591

Shafiyah berkata: “Setiap kali Umar bin Khatab masuk ke rumah kami, dia meminta kepada saya untuk dibawakan kepadanya mangkuk peninggalan Kanjeng Nabi saw, dan kami memberikan mangkuk itu kepadanya. Setelah itu, Umar bin Khatab memenuhi mangkuk itu dengan air zam-zam dan meminumnya. Dan dengan tujuan bertabarruk kepada Kanjeng Nabi, Umar bin Khatab mengusapkan air zam-zam dari mangkuk Rasul itu kewajahnya”.
Lihat kitab Al-ashabah, Juz 3 Halaman 202. dan kitab Asadul Qhabah, Juz 4, Halaman 352

Ummu Qais ketika mempunyai anak kecil dan belum makan apa-apa kecuali susu ibunya, selalu membawa anaknya ke hadapan Rasulullah saw supaya mendapatkan berkah beliau. Oleh beliau anak itu dipangkunya.
Lihat Shahih Bukhari, Juz 1, Halaman 62, Kitabul Ghusli.

Wallahu A'lam...


Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?


أَنَّ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَُّه عَنْهُ قَالَ
أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ مَقْتَلَ أَهْلِ الْيَمَامَةِ فَإِذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ عِنْدَهُ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَُّه عَنْهُ إِنَّ
عُمَرَ أَتَانِي فَقَالَ إِنَّ الْقَتْلَ قَدْ اسْتَحَرَّ يَوْمَ الْيَمَامَةِ بِقُرَّاءِ الْقُرْآنِ وَإِنِّي أَخْشَى أَنْ يَسْتَحِرَّ الْقَتْلُ بِالْقُرَّاءِ
بِالْمَوَاطِنِ فَيَذْهَبَ كَثِيرٌ مِنْ الْقُرْآنِ وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَأْمُرَ بِجَمْعِ الْقُرْآنِ قُلْتُ لِعُمَرَ كَيْفَ تَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ
رَسُولُ اللَِّه صَلَّى اللَُّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُمَرُ هَذَا وَاللَِّه خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي حَتَّى شَرَحَ اللَُّه صَدْرِي
لِذَلِكَ وَرَأَيْتُ فِي ذَلِكَ الَّذِي رَأَى عُمَرُ قَالَ زَيْدٌ قَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ لَا نَتَّهِمُكَ وَقَدْ كُنْتَ تَكْتُبُ
الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَِّه صَلَّى اللَُّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَتَبَّعْ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ فَوَاللَِّه لَوْ كَلَّفُونِي نَقْلَ جَبَلٍ مِنْ الْجِبَالِ
الْقُرْآنِ قُلْتُ كَيْفَ تَفْعَلُونَ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَِّه صَلَّى اللَُّه مَرَنِي بِهِ مِنْ جَمْعِ مَا كَانَ أَثْقَلَ عَلَيَّ مِمَّا أَ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هُوَ وَاللَِّه خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ أَبُو بَكْرٍ يُرَاجِعُنِي حَتَّى .َرَحَ اللَُّه صَدْرِي لِلَّذِي شَرَحَ لَهُ صَدْرَ
أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَُّه عَنْهُمَا فَتَتَبَّعْتُ الْقُرْآنَ أَجْمَعُهُ

“Bahwa Sungguh Zeyd bin Tsabit ra berkata : Abubakar ra mengutusku ketika terjadi pembunuhan besar - besaran atas para sahabat (Ahlul Yamaamah), dan bersamanya Umar bin Khattab ra, berkata Abubakar : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : “Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa “Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan
kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung - gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga ia pun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”.

(Shahih Bukhari hadits No.4402 dan 6768).

Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar Asshiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”. Hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah) yaitu
mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya Alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu 4 buku, tapi terpisah - pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di tembok,dihafal dll. Ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya.

Sumber: Kenali Akidahmu 2 - Habib Munzir Al Musawa


Pengikut

Video Streaming

 

ramamuare Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha