Kamis, 16 Desember 2010

Menepis Bisikan setan dalam hati.


Assamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Berikut Tips menepis bisikan setan dalam hati dari Habib Munzir al Musawa yang ana ambil dari forum tanya jawab di website www.majelisrasulullah.org

kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,

Sdr/i ku,jangan risau dg bisikan hati anda, itu sering mendatangi para shalihin sekalipun, namun sangat mudah menepisnya, bagaimana?, jika anda terus sibuk dg kerisauan maka syaitan terus masuk dihati anda dan mengganggu, maka tutup pintu hati anda dg melupakan itu dan meremehkannya,

(Katakan dalam hati) saya tidak akan tertipu bisikan hati, saya tetap tidak akan sujud pada selain Allah swt, saya tetap tak akan menyembah selain Allah swt, dan saya mengakui Nabi Muhammad saw adalah nabi saya, dan saya mengakui islam agama saya, selepas dari itu saya berbuat semampunya, dan Allah sdh janji memaafkan hamba yg mohon pengampunannya.

tertawakan bisikan itu, jangan difikirkan, tertawakan, (katakan) silahkan bisikkan apapun dikepala dan hatiku, aku tak akan berubah dari agamaku, dan semakin kau bisikkan maka aku semalkin dekat dan dicintai Allah swt, karena ditimpa musibah, maka silahkan menggodaku, karena dg itu aku makin mulia disisi Nya, Allah swt tiidak bisa ditipu, Allah swt tahu keadaanku, lebih dari semua makhluk Nya swt,. Allah swt tahu bahwa aku lemah menolak ini, maka Allah swt memaafkanku dan mengangkat derajatku hingga mencapai derajat luhur.

maka InsyaAllah bisikan itu akan hilang...

Semoga Allah swt melimpahkan cahaya keimanan, ketabahan dan kesejukan pada kita semua, dan cahaya keluhuran dihati sdri hingga selalu terjaga dari terjebak pd dosa, amiin

salam rindu selalu tuk saudara/i ku tercinta.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a'lam

Wasssalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh,


Beberapa Dalil Tabarruk


Dalam Surat Yusuf: “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”.
Lihat Surah Yusuf, Ayat 93.

Imam Malik bin Anas berkata: “Saya melihat Kanjeng Nabi saw sedang mencukur rambut kepala beliau dan terlihat kepala beliau yang penuh barakah itu bercahaya, sementara para sahabat berthawaf mengelilingi Kanjeng Nabi saw dan ketika beberapa helai rambut beliau jatuh, mereka berebutan dan mengambilnya”.
Lihat kitab Shahih Muslim, Juz 15, Halaman 83. Kitab Musnad Ahmad, Juz 3, Halaman 591

Shafiyah berkata: “Setiap kali Umar bin Khatab masuk ke rumah kami, dia meminta kepada saya untuk dibawakan kepadanya mangkuk peninggalan Kanjeng Nabi saw, dan kami memberikan mangkuk itu kepadanya. Setelah itu, Umar bin Khatab memenuhi mangkuk itu dengan air zam-zam dan meminumnya. Dan dengan tujuan bertabarruk kepada Kanjeng Nabi, Umar bin Khatab mengusapkan air zam-zam dari mangkuk Rasul itu kewajahnya”.
Lihat kitab Al-ashabah, Juz 3 Halaman 202. dan kitab Asadul Qhabah, Juz 4, Halaman 352

Ummu Qais ketika mempunyai anak kecil dan belum makan apa-apa kecuali susu ibunya, selalu membawa anaknya ke hadapan Rasulullah saw supaya mendapatkan berkah beliau. Oleh beliau anak itu dipangkunya.
Lihat Shahih Bukhari, Juz 1, Halaman 62, Kitabul Ghusli.

Wallahu A'lam...


Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?


أَنَّ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَُّه عَنْهُ قَالَ
أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ مَقْتَلَ أَهْلِ الْيَمَامَةِ فَإِذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ عِنْدَهُ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَُّه عَنْهُ إِنَّ
عُمَرَ أَتَانِي فَقَالَ إِنَّ الْقَتْلَ قَدْ اسْتَحَرَّ يَوْمَ الْيَمَامَةِ بِقُرَّاءِ الْقُرْآنِ وَإِنِّي أَخْشَى أَنْ يَسْتَحِرَّ الْقَتْلُ بِالْقُرَّاءِ
بِالْمَوَاطِنِ فَيَذْهَبَ كَثِيرٌ مِنْ الْقُرْآنِ وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَأْمُرَ بِجَمْعِ الْقُرْآنِ قُلْتُ لِعُمَرَ كَيْفَ تَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ
رَسُولُ اللَِّه صَلَّى اللَُّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُمَرُ هَذَا وَاللَِّه خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي حَتَّى شَرَحَ اللَُّه صَدْرِي
لِذَلِكَ وَرَأَيْتُ فِي ذَلِكَ الَّذِي رَأَى عُمَرُ قَالَ زَيْدٌ قَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ لَا نَتَّهِمُكَ وَقَدْ كُنْتَ تَكْتُبُ
الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَِّه صَلَّى اللَُّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَتَبَّعْ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ فَوَاللَِّه لَوْ كَلَّفُونِي نَقْلَ جَبَلٍ مِنْ الْجِبَالِ
الْقُرْآنِ قُلْتُ كَيْفَ تَفْعَلُونَ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَِّه صَلَّى اللَُّه مَرَنِي بِهِ مِنْ جَمْعِ مَا كَانَ أَثْقَلَ عَلَيَّ مِمَّا أَ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هُوَ وَاللَِّه خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ أَبُو بَكْرٍ يُرَاجِعُنِي حَتَّى .َرَحَ اللَُّه صَدْرِي لِلَّذِي شَرَحَ لَهُ صَدْرَ
أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَُّه عَنْهُمَا فَتَتَبَّعْتُ الْقُرْآنَ أَجْمَعُهُ

“Bahwa Sungguh Zeyd bin Tsabit ra berkata : Abubakar ra mengutusku ketika terjadi pembunuhan besar - besaran atas para sahabat (Ahlul Yamaamah), dan bersamanya Umar bin Khattab ra, berkata Abubakar : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : “Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa “Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan
kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung - gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga ia pun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”.

(Shahih Bukhari hadits No.4402 dan 6768).

Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar Asshiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”. Hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah) yaitu
mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya Alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu 4 buku, tapi terpisah - pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di tembok,dihafal dll. Ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya.

Sumber: Kenali Akidahmu 2 - Habib Munzir Al Musawa


sabar dapat membuatnya masuk islam


Dikisahkan bahwa di atas rumah Imam Hasan Al-Basri RA terdapat tetangga beliau yang Yahudi. WC rumah orang Yahudi tersebut bocor dan airnya menetes ke rumah beliau. Pada suatu kali beliau sedang sakit dan orang Yahudi tersebut datang menjenguk beliau. Di rumah beliau, orang Yahudi itu melihat bahwa ada baskom yang diletakkan oleh beliau di tengah rumah yang menampung tetesan air WC dari rumahnya. Lalu si Yahudi itu berkata,

“Sejak kapan engkau bersabar atas gangguan kami ini, wahai Abu Sa’id?”


Beliau menjawab,

“Sejak lima belas tahun yang silam.”

Si Yahudi tersebut bertanya lagi,

“Apakah ini karena agamamu yang menyuruhmu bersabar seperti ini?”

Beliau menjawab,

“Ya, betul.”

Orang Yahudi tersebut kemudian berkata,

“Sesungguhnya agama yang memerintahkan sikap seperti ini pastilah agama yang benar.”

Kemudian si Yahudi itu menyatakan dirinya masuk Islam.

Lalu berkatalah Imam Hasan Al-Basri,

“Bertetangga yang baik itu bukan dengan menahan diri dari mengganggu, namun bertetangga yang baik itu adalah dengan bersabar atas adanya gangguan dari tetangga.”



sumber: Muhammad Nuruddin Al-Makki, hal. 81


seseorang yang Ingin bermimpi almusthofa sayidina muhammad saw


Seorang murid berjalan menuju rumah syaikhnya. Tampak di wajahnya sedang menginginkan sesuatu. Ketika sampai di rumah syaikhnya, dia duduk bersimpuh beradab di hadapan sang syaikh tak bergeming sedikitpun. Kemudian dengan wajah dan suara yang berwibawa itu, bertanyalah syaikh kepada muridnya,

“Apakah yang membuatmu datang kepadaku di tengah malam begini?”

Dijawabnya dengan suara yang halus,

“Wahai syaikh, sudah lama aku ingin melihat wajah Nabiku SAW walau hanya lewat mimpi, tetapi keinginanku belum terkabul juga.”

“Ooh…itu rupanya yang kau inginkan. Tunggu sebentar,” jawab syaikh.

Dia mengeluarkan pena, kemudian menuliskan sesuatu untuk muridnya.

“Ini…bacalah setiap hari sebanyak seribu kali. Insya Allah kau akan bertemu dengan Nabimu.”

Pulanglah murid membawa catatan dari sang syaikh dengan penuh harapan ia akan bertemu dengan Nabi SAW.

Tetapi setelah beberapa minggu kembalilah murid ke rumah syaikhnya memberitahukan bahwa bacaan yang diberikannya tidak berpengaruh apa-apa. Kemudian syaikh memberikan bacaan baru untuk dicobanya lagi.

Sayangnya beberapa minggu setelah itu muridnya kembali lagi memberitahukan kejadian yang sama. Setelah berdiam beberapa saat, berkatalah sang syaikh,

“Nanti malam engkau datang ke rumahku untuk aku undang makan malam.”

Sang murid menyetujui permintaan syaikhnya dengan penuh keheranan. Dia ingin bertemu Nabi, tetapi kenapa diundang makan malam. Karena dia termasuk murid yang taat, dipenuhinyalah permintaan syaikhnya itu.

Datanglah ia ke rumah syaikhnya untuk menikmati hidangan malamnya. Tenyata syaikh hanya menghidangkan ikan asin saja dan memerintahkan muridnya untuk menghabiskannya.

“Makan, makanlah semua dan jangan biarkan tersisa sedikitpun!”

Maka sang muridpun menghabiskan seluruh ikan asin yang ada. Setelah itu ia merasa kehausan karena memang ikan asin membuat orang haus. Tetapi ketika ingin meneguk air yang ada di depan matanya, sang syaikh melarangnya,

“Kau tidak boleh meminum air itu hingga esok pagi, dan malam ini kau akan tidur di rumahku!” kata sang syaikh.

Dengan penuh keheranan diturutinya perintah syaikh tadi. Tetapi di malam hari ia susah untuk tidur karena kehausan. Ia membolak-balikkan badannya, hingga akhirnya tertidur karena kelelahan. Tetapi apa yang terjadi?. Ia bermimpi bertemu syaikhnya membawakan satu ember air dingin lalu mengguyurkan ke badannya. Kemudian terjagalah ia karena mimpi itu seakan-akan benar-benar terjadi pada dirinya. Kemudian ia mendapati syaikhnya telah berdiri di hadapannya dan berkata,

“Apa yang kau mimpikan?”

Dijawab olehnya,

“Syaikh, aku tidak bermimpi Nabiku SAW. Aku memimpikanmu membawa air dingin lalu mengguyurkan ke badanku.”

Tersenyumlah sang syaikh karena jawaban muridnya. Kemudian dengan bijaksana ia berkata,

“Jika cintamu pada Nabi seperti cintamu pada air dingin itu, kau akan bermimpi Nabimu SAW.”

Menangislah sang murid dan menyadari bahwa di dalam dirinya belum ada rasa cinta kepada Nabi. Ia masih lebih mencintai dunia daripada Nabi. Ia masih meninggalkan sunnah-sunnahnya. Ia masih menyakiti hati umat Nabi. Ia masih…masih…masih…..

“Ooh berapa banyak tenaga yang harus aku keluarkan untuk bertemu Nabiku. Aku sadari Nabiku bukan sesuatu yang murah dan mudah untuk dipetik atau dibeli dengan uang. Aku hanya berharap semoga Nabiku mendengar keluhan yang keluar dari hatiku ini dan menjemputku walau di dalam mimpi.”





sumber: alhabib Husin Nabil bin Najib Assegaf ,posting bisyarah


♥♥♥♥♥=( Apakah Itu C I N T A )=♥♥♥♥♥


Apakah telapak tanganmu berkeringat, jantungmu berdetak cepat, dan suaramu tercekat saat berada di dekatnya?



* Itu bukan Cinta, itu Suka.



Apakah kamu tak bisa melepaskan pandangan atau genggaman dari dirinya?



*Itu bukan Cinta, itu Nafsu.



Apakah kamu menginginkan dia saat dia sedang tidak ada?



*Itu bukan Cinta, itu Kesepian.



Apakah kamu ada di sana karena itulah yang diinginkannya?



*Itu bukan Cinta, itu Kesetiaan.



Apakah kamu menerima pengakuan cintanya karena kamu tak ingin menyakitinya?



*Itu bukan Cinta, itu Kasihan.



Apakah kamu ada di sana karena dia memelukmu atau menggenggam tanganmu?



*Itu bukan Cinta, itu Ketergantungan.



Apakah kamu ingin memiliknya karena tatapan matanya membuat hatimu berdegup kencang?



*Itu bukan Cinta, itu Tergila-gila.



Apakah kamu memaafkan kesalahannya karena kamu peduli padanya?



*Itu bukan Cinta, itu Persahabatan.



Apakah kamu mengatakan padanya setiap hari bahwa dialah satu-satunya orang yang kamu pikirkan?



*Itu bukan Cinta, itu Dusta.



Apakah kamu ingin memberikan semua benda kesayanganmu untuknya?



*Itu bukan Cinta, itu Sikap dermawan.



Apakah kamu tertarik pada orang lain, tapi tetap setia mendampinginya tanpa pernah menyesal?



>Barulah itu Cinta.



Apakah kamu menerima segala kesalahan dan kekurangannya karena itulah bagian dari dirinya?



>Barulah itu Cinta.



Apakah kamu menangis saat dia sedih meskipun dia kuat?



>Barulah itu Cinta.



Apakah kamu memaafkannya dan bersedia tetap bersamanya saat dia menyakiti?



>Barulah itu Cinta.



Apakah kamu tetap setia apapun yang terjadi, baik saat gembira maupun sengsara?



>Barulah itu Cinta.



Apakah kamu bersedia memberikan hatimu, Episode Kehidupanmu, dan Suka dan Dukamu untuknya?



>Ya, itulah Cinta.



Sekarang, tarik perlahan nafas anda. Dan pejamkan mata anda.

Bayangan siapa yg pertama kali muncul? Kemungkinan besar dialah orang yang anda Cintai



***

Dikisahkan sewaktu masih kecil Husain (cucu Rasulullah Saw.) bertanya kepada ayahnya, Sayidina Ali ra: "Apakah engkau mencintai Allah?" Ali ra menjawab, "Ya". Lalu Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?" Ali ra kembali menjawab, "Ya". Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai Ibuku?" Lagi-lagi Ali menjawab,"Ya". Husain kecil kembali bertanya: "Apakah engkau mencintaiku?" Ali menjawab, "Ya". Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, "Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?" Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: "Anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku pada kakek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah karena cinta kepada Allah". Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti :)


Kisah pada zaman Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani


Pada zaman Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani, ada seorang pendeta nasrani yang nabinya adalah Nabi Isa AS dapat menghidupkan orang yang sudah mati ...

ketika itu Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani ditegur dan pendeta itu berkata : “Wahai Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani, Nabiku bisa menghidupkan orang yang sudah mati, sedangkan engkau Umat Rasulullah SAW”.Lalu beliau tersenyum dan berkata : “Wahai pendeta, jangankan menghidupkan orang mati, orang yg usdah di alam kubur 700 thn bisaku bangkitkan”.

kemudian Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani menyuruh jenazah yg ada di dalam kubur itu utk bangkit, dgn Izin ALLAH SWT dan Rasulullah SAW, bergetarlah bumi sehinggayg ada di alam kubur 700 thn bangkit dan hidup, Pendeta nasrani itu langsung masuk Islam ...

Ini baru Umat nya Rasulullah SAW, bagaimana Rasulullah SAW sendiri ... !!!

SHOLLU 'ALA MUHAMMAD ... ^^


Pengikut

Video Streaming

 

ramamuare Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha